Saturday, March 18, 2017

Last...


Mungkin ini merupakan tulisan terakhir saya, mengingat kondisi perundang-undangan yang semakin tidak kondusif tentang keterbukaan informasi, yang menyebabkan sesorang dapat terjerat hukum apabila ada pembaca yang tidak menyukai tulisan tersebut. Sebagai contoh, dikatakan Penistaan ataupun Hoax.

Tetapi karena ini merupakan tulisan terakhir saya, jadi ya sudah, biarkan saja apa adanya. Terserah pembaca suka atau tidak suka dengan tulisan saya.
.
.
.
Berawal dari kondisi per-Parkir-an motor yang tidak bersahabat dengan kita sebagai pemilik dan penyewa parkir, dimana parkir motor tidak diberikan batas yang jelas antar kendaraan, yang menyebabkan motor diparkir sangat mepet sekali dengan motor lain. Sehingga membuat saya sebagai pemilik sangat miris dan pilu. Bagaimana tidak, kendaraan yang dibeli dengan keringat sendiri dan dengan perjuangan yang tidak mudah; diperlakukan seenaknya saja oleh orang lain. Terbukti dengan kondisi cat di bodi kiri dan kanan serta batok yang terdapat goresan-goresan yang cukup dalam.

Apakah ada solusi mengatasi permasalahan ini?

Berhari-hari saya berpikir, bahkan berbulan-bulan. Dan akhirnya sayapun menyerah...

Bagaimana tidak, lihat saja perilaku pemilik motor lain yang sangat tidak menghargai orang lain. Contoh:
- Memarkir dengan standar samping.
  Dengan posisi parkir seperti ini, anda sudah "mencuri" hak parkir orang lain. Karena orang lain akan sulit untuk memarkirkan motor miliknya, dikarenakan anda mengambil space parkir yang lebih banyak. Belum lagi apabila standar samping anda kondisi nya sudah sangat miring.
- Memarkir dan mengeluarkan dengan sembarangan.
  Terkadang saya miris melihat cara orang lain memarkirkan maupun mengeluarkan motor dari barisan parkir. Tanpa rasa bersalah, orang tersebut mengeluarkan dengan sembarangan, sehingga terkadang setang motor bersenggolan dengan batok motor lain yang menyebabkan motor tersebut rusak akibat ulah orang orang tersebut. Apakah tidak bisa sabar dan berhati-hati sedikit ketika memarkir dan mengeluarkan motornya. Saya menyebut tingkah orang seperti ini, masuk ke dalam kategori Vandalisme.
- Meletakkan helm di spion
  Jujur, saya tidak suka dengan tipikal orang seperti ini. Karena dengan orang tersebut meletakkan helm di spion, maka ketika kita akan mengeluarkan motor, akan sangat sulit menjaga agar bagian motor kita tidak bersenggolan dengan helm orang tersebut.


Apabila anda termasuk salah satu dari beberapa contoh kategori tersebut, Selamat !!! Berarti anda termasuk orang timur yang "katanya" terkenal sopan dan bertoleransi.


Hingga suatu saat, seorang teman dekat mengirimkan sebuah video tentang teknologi spion yang ada di luar sana.

Mata saya langsung berbinar melihat kemampuan spion tersebut, dalam hati saya, ini solusi yang mampu me-minimize kerusakan pada motor saya. Tanpa pikir terlalu panjang, saya pun mencoba mencari informasi serta melacak tentang keberadaan spion tersebut.
 

Dan akhirnya, teman saya mengirimkan foto dari sebuah website tentang keberadaan spion tersebut. Setelah saya lihat, ternyata hanya website tersebut yang mencantumkan kode parts tersebut. Sayapun langsung mencatat dan menyimpan kode parts tersebut, serta menginventaris kode parts yang akan saya beli dan saya import dari luar, dengan tujuan agar saya mendapatkan biaya import yang lebih murah karena mengirim dalam jumlah banyak.

Selang beberapa minggu, teman sayapun mengatakan apabila dia akan mampir dan membeli parts tersebut dan menanyakan ke saya apakah saya mau titip membeli parts tersebut? Dengan lantang saya menjawab. YES, I DO... Hahaha... (Thank you so much for your kindness, I really apreciate it).

Dan berikut adalah parts yang dimaksud.










Seperti yang bisa kita lihat sendiri, kemampuan dari spion ini, yaitu bisa diputar ke dalam agar tidak tertekuk oleh orang lain ketika sedang memarkirkan motornya. Karena apabila spion sering disenggol-senggol, lama kelamaan spion tersebut akan menjadi kendor, sehingga saya pun harus membeli spion baru yang bukan diakibatkan oleh kesalahan saya, tetapi akibat orang lain. Hal ini sangat menjengkelkan dan merugikan orang lain. Lagi-lagi, saya sebut ini merupakan tindakan Vandalisme.


Sebagai catatan akhir, spion yang sebelumnya terpasang adalah spion G5 (ini juga tidak ada di negara saya, import khusus untuk saya).

Sekilas, antara spion ini dengan G5, dimensinya cukup mirip. Tetapi setelah digunakan berkendara, saya bisa katakan spion G5 jauh lebih unggul dari sisi rider view, dimana spion G5 memiliki view yang lebih luas dan nyaman untuk melihat pergerakan kendaraan di posisi belakang kita. Hal ini dikarenakan bentuk nya yang masih "konvensional"/oval, dimana tidak ada bagian yang terlalu luas atau terlalu sempit. Istilah kerennya, minimal Blind Spot. Dan juga, kedua spion ini sebenarnya jauh lebih besar dimensi nya ketimbang spion motor merk Jepang. Artinya, tingkat safety/keamanan pengendara akan jauh lebih baik menggunakan spion ini.

Dan lucunya, sebagian besar pengendara lokal, tidak menyukai spion original, karena menurut mereka ukurannya terlalu besar, sehingga merekapun menggantinya dengan spion yang berukuran Super Mini atau spion dengan kualitas rendah. Anggapan mereka, kalau mau berbelok, gampang, tinggal nengok saja kebelakang.

Opini saya terhadap orang seperti ini adalah orang-orang bodoh yang tidak menghargai orang lain. Karena tindakan mereka dapat membahayakan orang lain bahkan dapat berakibat fatal. Ditambah lagi dengan harga spion yang sangat murah, walaupun spion original/asli dari pabrikan yang memproduksi merk tersebut, sehingga masyarakat tidak di-didik menghargai nyawa orang lain yang tidak dapat dibeli dengan uang.


Sebenarnya spion G5 pun bisa diputar (baik ke dalam ataupun keluar), akan tetapi spion G5 tidak ada batasan yang menandakan bahwa titik tersebut adalah posisi awal spion yang telah kita set. Sehingga apabila saya coba putar, maka ketika saya coba kembalikan ke posisi awal, maka saya akan kesulitan untuk mengembalikan ke posisi awalnya. Tentu hal ini akan cukup merepotkan dan membuat ketidaknyamanan ketika akan digunakan berkendara.


Again, thank you my friend VW.

Tuesday, January 12, 2016

NGK Iridium vs Denso Iridium

Ternyata saya tidak perlu bersusah payah mengimport busi yang saya mau untuk Suzuki Address, yaitu NGK CPR7EAIX-9. Karena belum lama ini, NGK telah mengmportnya langsung dari Jepang. Dan harga yang ditawarkan pun relatif setara dengan kompetitor.


Salah satu hal yang saya suka dari design box kedua busi ini adalah terdapat keterangan cara mengencangkannya.
Dimana Denso menjelaskan nominal torsi yang dibutuhkan berdasarkan diameter tools yang digunakan.
Sedangkan NGK; kencangkan dengan jari kemudian menggunakan tools M10 dan diputar 1/2 putaran.

Dari dua hal ini, NGK lebih user friendly untuk menjelaskan cara mengencangkan busi yang benar, dan tidak terlalu teknikal seperti denso yang memaksa kita menggunakan tools dengan pengatur torsi yang sudah pasti bukanlah tools yang murah untuk dimiliki.

Sekarang mari kita bandingkan antara busi Standar vs Iridium.
Dari kanan ke kiri: NGK CPR7EA-9, Denso IU22, NGK CPR7EAIX-9

Paling kanan merupakan busi standar bagi Suzuki Address
Sedangkan Denso IU22 dan NGK CPR7EAIX-9 merupakan konversi busi Iridium sesuai rekomendasi yang tertera pada buku manual.

Dari wujud fisik antara Denso dan NGK (baik standar maupun Iridium) sudah jelas terlihat bahwa busi NGK sangat unggul, dikarenakan konstruksi nya lebih menonjol, sehingga kompresi mesin pun bisa dipastikan meningkat. Hal inilah yang membuat NGK jauh lebih unggul timbang Denso, dimana Denso tidak memiliki busi dengan konstruksi seperti ini.

Berdasarkan NGK Belanda, kode P yang tertera pada kode busi merupakan kode yang menentukan bahwa busi ini jenis Projected Insulator Type, yaitu busi design khusus yang lebih menonjol.

Sebagai gambaran; NGK Japan memiliki gambaran perbedaan beberapa bentuk busi seperti berikut.
Very different indeed...

Kerengganan busi pun telah diatur oleh NGK sesuai dengan standar Suzuki Address, yaitu 0.8-0.9mm
Sehingga saya tidak perlu mengatur lagi kerenggangannya, istilahnya Plug and Play.

Hasil running test menuju ke kantor, impresi pertama yang saya dapatkan adalah, busi Iridium dengan kode P, memang meningkatkan tenaga yang cukup signifikan disetiap derajat putaran grip gas, bahkan terasa sangat powerful dibandingkan Denso Iridium. Dengan performa seperti ini, seharusnya konsumsi bensin pun menjadi lebih irit, karena untuk menghasilkan sensasi tenaga yang sama, saya tidak perlu memutar putaran grip gas lebih lebar.

Tapi soal konsumsi bensin, sangat tricky; susah susah gampang.
Gampang, karena cukup menjaga putaran mesin selembut mungkin tanpa hentakan.
Susah, karena kondisi lalu lintas saat ini yang tidak memungkinkan, dimana semakin banyak pengendara yang sembrono.

Pendapat terakhir saya (subjective karena tidak saya test di mesin dyno), selama Denso belum memproduksi busi dengan konstruksi Projected, maka tidak akan pernah mampu untuk menyaingi NGK.

Bahkan boleh dibilang busi dapat membuat 1-2% perbedaan di dalam distribusi power dan torsi.

Saran saya, bagi yang ingin meningkatkan performa mesin yang cukup sederhana, gunakan busi yang memiliki kode P (terserah apakah standard, platinum atau iridium).

Sebagai tambahan, saya lampirkan keterangan dari NGK Australia tentang umur busi.

Tuesday, July 07, 2015

Floating

Mengendarai mesin yang bernama Suzuki Address sejak Januari 2015 sampai saat ini, ternyata membawa dampak sangat radikal. Terutama di sektor PANTAT!!!


Busa jok yang terlalu tipis dengan karakter busa agak kaku ditambah dengan lapisan kulit jok yang jauh dari kata lentur jelas membuat dampak penting terhadap yang namanya Pantat.

Walaupun punya skill detailing serta amunisi mumpuni untuk perawatan kulit sintetis, tetap tidak menolong. Kulit jok tetap kurang lentur. Tetapi jika dibandingkan dengan waktu awal mesin ini diantar ke garasi, sudah jauh lebih baik.

Untungnya, rebound suspensi Address terbilang sangat lembut, bahkan mungkin terlalu empuk, sehingga sangat membantu meredam efek floating pada Pantat. Yup, bukan hanya ban saja yang memiliki efek floating, pantat juga memiliki efek floating. Silahkan cek sendiri di jalan, berapa banyak pengendara yang mengangkat pantat nya akibat gesekan dengan kulit jok terlalu lama.

Tapi hal ini tidak membuat saya lantas berpindah hati untuk membeli mesin yang lain. Disamping dana nya pun tidak ada....

Alasan yang membuat saya tetap bertahan dengan mesin ini adalah karena ini adalah mesin termudah yang pernah saya miliki dari sisi handling dengan tenaga mesin yang cukup menunjang.

Keunggulan mesin ini jelas adalah handling nya yang sangat mudah untuk diajak bermanuver diantara kemacetan, padahal postur mesin ini terbilang tinggi, tetapi aneh nya terlalu mudah untuk diajak bermanuver bahkan jika dibandingkan dengan mesin lain yang berpostur lebih rendah dan jarak sumbu roda lebih sempit pun, mesin ini masih lebih baik. Fun to Ride indeed...

Thursday, April 02, 2015

Iridium?

Suzuki Address menggunakan busi standard NGK CPR7EA-9. Kali ini saya mau mencoba busi iridium di mesin baru, biasanya paling tinggi saya pakai busi platinum agar harga dan performa dapat di Kymco SR.

Sayapun mencoba mencari busi Iridiun NGK. Berdasarkan website NGK, kode busi iridium nya adalah CPR7EAIX-9. Dan ternyata kode busi ini tidak tersedia di Indonesia, jadi mau tidak mau saya harus menggunakan busi merk lain yang setara. Pilihan saya jatuh ke busi Denso.

Berdasarkan buku manual, busi Denso standar adalah U22EPR9.


Jika dikonversikan ke Iridium, maka kode busi nya adalah IU22

Busi iridium Denso lebih mudah didapat dibandingkan NGK, dan ini menjadi nilai plus bagi Denso.



Baik NGK CPR7EAIX-9 maupun Denso IU22 memiliki panjang dan diameter ulir/drat yang sama, sehingga dijamin plug n play. Tetapi perbedaan mencolok terlihat dari ketinggian anoda busi, dimana Denso IU22 kalah tinggi, sehingga akan menyebabkan kompesi mesin menurun.

 
NGK
Denso
Kompresi turun->akselerasi & power turun

Tools yang harus disiapkan cukup mudah:
1. Obeng plus (+)
2. Kunci busi bawaan motor

Berikut adalah prosedur pelepasan busi:
1. Buka 2 sekrup di dek
2. Buka 2 sekrup di bagasi depan
3. Lepas tutup dek bagasi
4. Lepas tutup busi
5. Buka busi dengan kunci busi



Sedangkan prosedur pemasangannya adalah kebalikan dari prosedur pelepasan.

Yang perlu diingat adalah torsi pengencangan busi, dimana apabila menggunakan manual, maka busi harus dikencangkan murni menggunakan tangan. Setelah itu, dikencangkan menggunakan tools sebesar 1/2 putaran.


Perbedaan yang paling terasa menggunakan busi iridium adalah adanya akselerasi tambahan, tidak banyak bahkan mungkin kurang terasa. Mungkin hal ini dikarenakan kompresi yang menurun akibat ketinggian anoda busi.

Mungkin lain waktu, saya akan import NGK CR7EAIX-9 agar saya benar2 bisa merasakan kekuatan iridium yang sesungguhnya.

Wednesday, March 11, 2015

Plat Dek: Simple, Unik

Aksesoris original Suzuki Address lainnya yang menarik perhatian saya adalah plat dek/bordes.

Design dari plat ini cukup unik, karena ide, bentuk dan penempatannya yang dirancang sangat teliti. Brilian!!!

Plat ini diposisikan mengisi gap di dalam cekungan yang ada pada dek. Sehingga tidak akan terinjak oleh alas kaki. Jadi keindahannya pun akan tetap terjaga, karena resiko kerusakan akibat tekanan benda pada bagian atasnya sangat minim.



Dan uniknya lagi, pemasangannya pun tidak akan merusak dek aslinya. Karena plat ini telah diberi double tape berkualitas tinggi untuk merekatkannya di dek. Sehingga tidak perlu melubangi dek, hanya pastikan bahwa bidang yang akan ditempeli sudah bebas minyak dan debu, agar double tape lebih tahan lama.


Rekatkan satu per satu bilah plat dek sampai ke-8 bilah plat terpasang sempurna pada dek.

Setelah selesai, saya cukup dibuat kagum oleh designer Suzuki. Aksesoris yang sangat sederhana dan unik, tetapi sangat elegan. I like it very much. Well done Suzuki.



Tuesday, March 10, 2015

A hole in the Box

Bagasi Address adalah yang paling besar saat ini untuk kelas motor otomatis penggerak CVT, roda ring 14, kapasitas silinder 110cc.

Akan tetapi sayangnya bagasi ini tidak memiliki lubang di bagian dalamnya, sehingga sirkulasi udara kurang baik. Dan apabila air sampai masuk dan tidak kering, maka bagasi akan berbau yang kurang enak.

Bagi saya yang senang detailing, hal ini sangat merepotkan, karena ketika bagasi saya cuci dengan shampoo, cairan shampoo maupun air tidak dapat keluar. Sehingga akan membuat waktu pengerjaan pencucian motor menjadi lebih lama.

Mungkin konsep Suzuki dengan tidak adanya lubang pembuangan air adalah:

  1. Agar barang2 di bagasi aman ketika motor terendam banjir, karena tidak adanya akses masuk air
  2. Agar barang2 tidak menjadi kotor
Walaupun dengan kedua alasan itu, saya tetap memilih untuk adanya lubang hawa. Maka saya pun mencoba mencari titik terendah dari bagasi. Dan ternyata posisinya adalah tepat di belakang baut pengikat bagasi ke sasis.

Saya siapkan bor dan mata bor 2mm, lalu melepas bagasi dari tempatnya. Dan mulailah saya membuat 2 buah lubang di bagasi untuk saluran pembuangan air. Setelah selesai, saya pun memasangnya kembali ke sasis.

Thursday, March 05, 2015

Shad SH39 vs Givi E450 Simply II

Beberapa hari menggunakan Suzuki Address terasa menyiksa. Karena tidak bisa membawa barang2 sebanyak ketika memakai SR. Dan lebih tersiksa lagi karena mau tidak mau barang2 tersebut harus dimasukkan ke dalam tas yang saya gendong di depan ketika berkendara. Sehingga fisik saya menjadi lebih lelah ketika menggunakan Suzuki Address, ditambah kondisi jok yang terasa tipis dan keras.

Dengan kondisi ini, saya terpaksa harus memasang box tambahan (majic jar klu kata teman2 saya). Yah, apa boleh buat, daripada lelah di jalan yang membuat saya menjadi tidak fokus dan membahayakan diri sendiri, lebih baik mengorbankan prinsip.

Saya kontak orang suzuki untuk memesan original aksesoris behel agar bisa dipasang box. Sambil menunggu ketersediaan parts, maka saya pun berburu box apa yg sesuai kriteria saya. Kembali, ini urusan selera, sehingga bersifat sangat subjektif.

Kriteria saya, sebagai berikut:
  1. Dapat menampung 1 helm full face dan 1 helm half face
Cukup 1 alasan ini saja buat saya dalam memilih box. Dan dari hasil browsing dan komparasi, pilihan sayapun jatuh ke SHAD SH39.


Tanpa pikir panjang, saya pun langsung membeli SH39. Agak lama juga menunggu behel original ready. Sambil menunggu behel ready, saya pun browsing lebih detail mengenai behel tersebut. Saya perhatikan dengan detail, baik dimensi maupun bentuknya.

Sambil melihat gambar behel yang ada di internet, mata saya tertuju ke posisi lubang baut yang ada di behel tersebut. Ups..., ada sesuatu yang aneh dan tidak sesuai perkiraan saya. Saya pun langsung membongkar box SH39, dan mencari Base Plate nya untuk memastikan posisi lubang yang terdapat di base plate SH39 sesuai dengan gambar behel yang ada di internet.

Dan ternyata benar dugaan saya, lubang base plate SH39 tidak sesuai dengan posisi lubang behel. Sedih rasanya. Karena saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membandingkan dan akhirnya memutuskan membeli box ini.
Karena sudah tidak mungkin memasang SH39 di behel aksesoris original Suzuki Address, maka sayapun akhirnya memutuskan untuk membeli Givi saja, dan kali ini tidak akan mungkin salah. Karena behel ini awalnya memang dirancang agar sesuai dengan GIVI.

Ternyata GIVI memiliki 2 design base plate, yaitu Monolock dan Monokey. Kembali saya browsing di internet bentuk dari 2 jenis base plate tersebut. Hasil yang saya dapatkan adalah, lubang baut Monokey mirip dengan Shad SH39. Sehingga sayapun memilih Monolock.

Dari beberapa kapasitas box GIVI monolock, yang dapat memenuhi kriteria saya adalah E450 Simply II. Tanpa banyak kompromi lagi, saya pun membeli E450.


Keuntungan menggunakan box GIVI adalah, saya dapat bertukar tipe box selama masih menggunakan base plate monolock. Sedangkan SHAD, beda tipe box, beda juga base plate nya. Dan ini akan sangat menyulitkan apabila di kemudian hari saya merasa bosan atau mau mengganti dengan tipe lain yang lebih bagus.

Base Plate SHAD
Akhirnya, behel pun ready. Dan saya langsung mencocokan kedua base plate antara SH39 vs E450 dengan behel tersebut. Dan ternyata memang base plate monolock sangat pas dengan behel ini.


Dan berikut tools yang saya gunakan untuk memasang behel dan baseplate:
  1. Karet lembaran ketebalan 1mm
  2. Gunting
  3. Cottonbud
  4. Kunci Allen 5mm
  5. Kunci Ring 8mm
  6. Kunci Socket 10mm
  7. Kunci Socket 12mm
  8. Obeng Plus (+)
Prosedur pemasangan base plate pada behel adalah:
  1. Buat pola behel di karet
  2. Gunting karet dan lubangi sesuai dengan pola
  3. Pasang pada behel dan pasang base plate di atasnya
  4. Pasang plat kotak asli Givi di 4 titik sesuai lubang behel, buat zig zag agar kuat
  5. Pasang baut allen beserta ring nya di plat kotak tersebut
  6. Pasang lock nut beserta ring nya dari bagian bawah untuk mengunci baut allen
  7. Kencangkan baut allen menggunakan kunci allen 5mm dan lock nut dengan kunci ring 8mm
Prosedur melepas behel lama:
  1. Buka pengunci jok dari kunci kontak
  2. Tekan 2 buah klip bundar pengunci bodi dekat nomor rangka dengan Cottonbud, dan cabut
  3. Buka 4 sekrup dek bagasi dengan Obeng Plus (+) (2 di depan bawah, 2 di dekat helmet holder), dan buka dek dengan cara menarik ke depan
  4. Buka sekrup bagasi di kiri kanan dengan Obeng Plus (+)
  5. Buka baut bagasi dengan kunci Socket 10mm, dan angkat bagasi
  6. Buka tutup tangki bensin
  7. Buka tutup plastik tangki bensin, dan jangan lupa melepas selang pembuangan bensin di bagian bawahnya
  8. Buka 3 baut behel dengan kunci Socket 12mm, dan lepas behel
Adapun prosedur pemasangannya adalah kebalikan dari prosedur pemasangan.

Sebelum Box saya pasang pada base plate, saya punya ide untuk membuat reflektor box terlihat lebih memantulkan cahaya agar pengendara di belakang saya dapat mengidentifikasi keberadaan saya lebih baik. Karena mika aslinya kurang memantulkan cahaya. Sehingga saya pun mencoba memasang stiker scotchlite pada lempengan seng yang terdapat dibalik mika box.

Cukup membuka 3 sekrup dengan Obeng Plus (+) yang terdapat di belakang mika, dan mika pun dapat dilepas.

Saya menggunakan stiker Kiwalite Putih untuk melapisi seng tersebut. Stiker ini adalah jenis stiker yang cukup elastis dan memiliki daya rekat sangat tinggi. Jadi penanganannya harus ekstra hati-hati. Karena begitu sudah merekat, akan sangat sulit dilepas. Kalaupun bisa dilepas, maka stiker dipastikan sudah rusak dan berubah bentuk.

Dan inilah hasil akhir setelah mika dilapisi dengan Kiwalite.


Friday, February 27, 2015

Kampas Rem Sintered

Suzuki Address menggunakan kampas asbestos sebagai kampas standar. Jenis kampas ini sangat tidak saya rekomendasi, karena debu asbes tidak bersahabat dengan paru2, dan juga bahan ini tidak bersahabat dengan disc brake. Dan sejujurnya, bahan asbestos sudah ditinggalkan oleh pabrikan kampas rem dunia.


Sedikit gambaran yang saya dapat di wiki, bahwa debu asbestos ini sangat berbahaya, dikarenakan partikel asbestos berukuran besar. Plus partikel yang dilepas oleh asbestos memiliki permukaan yang sangat tajam, yang dapat berakibat kerusakan pada organ dalam tubuh manusia. Akibat fatal nya adalah kegagalan fungsi organ dalam yang berujung kepada kematian.

Oleh alasan itulah, saya mencoba mencari alternatif kampas rem untuk Suzuki Address. (Huge step begin from small step, and it starts from me). Setelah browsing dan riset mengenai jenis bahan kampas rem, didapatilah beberapa jenis kampas rem, berdasarkan bahan dan teknologi pembuatannya. Yaitu:
  1. Organik
  2. Sintered H/Double H
  3. Keramik
Bahan Keramik adalah bahan terbaik saat ini, dan harganya pun adalah yang terbaik.
Saya putuskan untuk memilih organik atau sintered. Diantara 2 bahan ini sintered adalah yang lebih baik. Alasannya adalah:
  1. Kemampuan rem tidak berubah baik keadaan kering atau pun basah
  2. Daya henti lebih baik
  3. Abrasi terhadap disc adalah yang terendah
Sedangkan kekurangannya adalah:
  1. Harga lebih tinggi
  2. Sedikit lebih bising
  3. Memerlukan pemanasan
Saya coba mencari kesana kemari kampas rem substitusi untuk Suzuki Address saya, dan saya tidak mendapatkannya disini. Jadi pilihannya adalah Import.
Kembali saya list merk kampas rem yang ada di dunia untuk bentuk dan ukuran kampas rem Suzuki Address:
  1. Bendix MA 202
  2. Dunlopad DP218
  3. EBC FA230
  4. Vesrah VD351
  5. Delta DB2250
  6. Goldfren 109
  7. Venom VMP-07
Dari beberapa daftar ini, akhirnya saya putuskan untuk membeli Venom VMP-07, karena free ongkos kirim dari luar negeri sampai ke saya. Sehingga setelah saya hitung, menjadi lebih murah dibanding merk yang lain. Tetapi sejujurnya, saya sangat kepingin mencoba EBC. Karena EBC memiliki teknologi bahan kampas yang terbaik saat ini.


Setelah kampas rem tiba, saya lihat sekilas memang mirip,. Akan tetapi setelah diukur, ternyata perlu sedikit penyesuaian. Dan itu bukan masalah berarti buat saya.



Tools pun saya siapkan untuk pemasangan:
  1. Kunci soket 12mm
  2. Obeng minus(-)
  3. Kunci Allen 5mm
Prosedur melepas kampas rem original:
  1. Lepas 2 baut pemegang kaliper dengan kunci soket
  2. Lepas klip penahan kampas dengan cara dicungkil dengan obeng
  3. Lepas pin dengan kunci Allen
  4. Cabut kampas


Adapun langkah pemasangan kembali, adalah kebalikan dari pemasangan.
Dan terpasanglah kampas rem Venom VMP-07 dengan manis di Suzuki Address. Btw, kampas ini sudah masuk ke jajaran Sintered Double H. Artinya bahan bronze (tembaga) yang digunakan sebagai campuran kompon kampas, sudah menggunakan kualitas yang lebih baik.



Impresi pertama, tidak diperlukan break-in/inreyen. Kampas terasa mencengkeram sempurna terhadap Disc ketika tuas rem ditarik, bahkan terasa sangat lembut. Berbeda dengan kampas asbestos yg diperlukan inreyen yang cukup jauh agar kampas rem dapat mencengkeram disc dengan sempurna. Efek rem blong yang saya rasakan ketika menggunakan kampas original pun telah hilang. Tentu hal ini akan meningkatkan faktor safety.

Bahkan ketika saya mencoba hard brake, Suzuki Address tetap stabil dan terasa lembut hingga berhenti. Tidak ada perasaan tersentak akibat hard braking. Dan jarak pengereman pun jauh lebih rendah dibandingkan kampas original. Disini letak kenikmatan kampas rem jenis Sintered Double H sebenarnya, soft tapi dengan kemampuan daya henti laju yang sangat luar biasa impresif.
Satu hal mengenai kelemahan sintered nomor 3, yaitu membutuhkan pemanasan; memang benar adanya. Ketika ragu menarik rem, maka rem kurang panas, sehingga kemampuan akan berkurang sangat jauh. Oleh karena nya Double H sudah menggunakan bahan bronze yang lebih baik, sehingga kemampuan menghantar panas terhadap kompon kampas rem semakin cepat.
Untuk kebisingan, saya justru tidak mendengar suara apapun yang bersumber dari kampas. Apakah mungkin karena kampas ini sudah masuk dalam kategori Double H?

Tuesday, February 24, 2015

Gantungan Barang CNC

Gantungan barang/hanger original Suzuki Address sangat pendek dan sempit, sehingga menyulitkan ketika akan meletakkan 2 buat helm half face. Kalaupun bisa, resiko helm terlepas dari gantungan karena goyang atau tersenggol pun sangat tinggi. Sehingga saya pun mencari alternatif hanger via browser.



Dari pencarian yang cukup menyita waktu, ada 2 jenis hanger yang cukup bagus menurut saya (subyektif), yaitu:
  1. Model kait ada kunci penutup
  2. Model claw/cakar
Model pertama berbahan plastik, sedangkan claw berbahan alumunium cnc. Dikarenakan handguard yang telah terpasang memiliki bahan cnc, maka saya pun memilih hanger cnc warna silver agar perpaduan warna nya serasi.

Berikut prosedur pemasangan hanger:
  1. Buka baut hanger original dengan palu dan impact bit plus (+)
  2. Lepas hanger original
  3. Pasang hanger cnc beserta baut yang telah disediakan
  4. Pegang hanger cnc dengan tang besar yang telah diselimuti kain
  5. Kencangkan baut hanger dengan kunci Allen 5mm
Adapun hasil akhirnya setelah terpasang adalah seperti ini:



Kelebihan dari hanger model claw adalah, terdapat 2 tuas sebagai tempat menggantung, sehingga saya dapat meletakkan 2 buah helm half face saya tanpa kuatir jatuh lagi.

Kelebihan lainnya adalah, hanger ini lebih tinggi dan jarak ke dek lebih jauh, sehingga dapat meletakkan barang2 dengan jumlah yang lebih banyak.